Keseimbangan Akal dan Hati Nurani Manusia.
Surat Al-Ghaasiyyah ayat 17-20 di dalam Al-Qur`an adalah cerminan dari teguran Allah sekaligus pelajaran yang Ia berikan kepada Manusia yang telah Ia ciptakan, agar manusia bisa menguak eksistensi dari hadirnya mereka di muka bumi ini. Manusia yang telah Ia ciptakan dengan Akal dan Hati Nurani harusnya bisa tuk berpikir Reflex terhadap apa yang ada disekitarnya termasuk dari apa yang bisa mereka rasakan, mereka dengar, bahkan mereka pikirkan baik itu hal yang besar maupun hal yang terkecil yang sering dianggap remeh, dan seringkali apa yang dianggap remeh itu memiliki nilai hikmah atau pelajaran yang sangat berharga bagi manusia.
Akal dan hati nurani disini berperan sebagai perangkat manusia untuk berpikir raflek terhadap apa yang ada maupun terhadap apa yang hanya bisa dirasa. Sehingga apa yang di katakan oleh kebanyakan orang bahwa manusia adalah makhluk yang cendrung kepada kebenaran benar adanya dan hal ini tidaklah perlu di ragukan lagi. Peranan hati nurani terhadap akal tidak lah dapat dipisahkan dikarenakan akal menusia terkadang tidaklah mampu untuk mencapai hal-hal yang sifatnya sensitif yang lebih kepada perasaan manusia atau yang sering disebut sebagi hal yang sangat intuisif. Dan hati nuranipun tidaklah dapat tuk berdiri sendiri karena tanpa adanya peranan akal manusia karena akal berfungsi untuk memikirkan, menimbang dan memperhitungkan terhadap langkah kedepan yang akan kita hadapi, jadi dalam penggunaan akal dan hati nurani yang ada pada manusia haruslah seimbang.
Namun ironisnya pada praktek kehidupan manusia sering kali tidak pernah menggunakan akal dan hati nurani tersebut secara seimbang, kita lebih cendrung untuk menggunakan salah satu saja dari kedua hal tersebut bahkan ada sebahagian dari kita yang membenci penggunaan akal karena dianggap sesat oleh apa yang telah kita yakini, atau kita lebih cenddung menggunakan akal yang pada akhirnya menimbulkan rasa keegoisan kita terhadap apa yang ada di sekitar kita. Dan banyak contoh yang bisa kita ambil ketika manusia bertindak tanpa menggunakan akal dan hati nurani yang ada pada mereka tarulah contoh ketika terjadinya kesenjangan sosial dan konflik sosial yang sekarang ini marak terjadi ditengah-tengah kita merupakan wujud dari ketidak seimbangan kita dalam mengaprisiasikan akal dan hati nurani kita atau seperti kasus kediktatoran seorang pemimpin dalam memimpin rakyaknya sehingga seringkali kebijakan-kebijakan yang ia keluarkan tanpa memperhatikan kesanggupan rakyat untuk memenuhinya juga merupakan contoh dari ketidak seimbangan dalam penggunaan akal dan hati nurani.
Untuk itulah kita sebagi Insan akademis haruslah bisa menyeimbangkan penggunaan akal dan hati nurani kita sebagi wujud refleksi kita terhadapa apa yang ada di sekitar kita. Akal tanpa hati nurani adalah buta dan hati nurani tanpa akal adalah bodoh.
